Kamus Korupsi

Jakarta – KabarNet: Ada hal lucu terjadi dalam proses penyidikan dan pengadilan para terperiksa, tersangka, dan terdakwa kasus korupsi Wisma Atlet. Pasalnya, para tim penyidik KPK, tim Jaksa Penuntut Umum, tim Pengacara, dan bahkan juga majelis hakim, ternyata sama-sama memegang semacam catatan yang boleh kita sebut sebagai “Kamus Korupsi”. Yaitu kamus berisi istilah dan sandi-sandi tertentu yang hanya dipahami oleh mereka yang terlibat dalam kasus korupsi tersebut.

Wacana penggunaan “kamus korupsi” ini bermula tatkala Tim Penyidik KPK, Jaksa Penuntut Umum, Tim Pengacara, dan juga Majelis Hakim yang mengadili kasus Wisma Atlet yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M.Nazarudin, dibuat pusing karena kewalahan oleh istilah-istilah dan kode-kode yang digunakan oleh pihak-pihak yang diduga terlibat. Dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun melalui pesan singkat (SMS), oknum-oknum yang terlibat selalu menggunakan istilah dan kode-kode tertentu yang hanya dipahami oleh mereka saja.

Sebagai misal, Ketua Komite Etik KPK, Abdullah Hehamahua, pernah dibikin pusing karena kewalahan dengan sandi-sandi tersebut saat memeriksa Nazaruddin pada bulan Agustus 2011 yang silam. Ternyata Nazaruddin menggunakan kode huruf untuk orang-orang yang berkomunikasi dengannya, misalnya “A” Nazaruddin, “B” Neneng istrinya, “C” adiknya, “D” Yulianis, dan demikian seterusnya.

Bukan itu saja, Nazaruddin bahkan juga merangkai sandi-sandi huruf itu buat orang luar yang berkomunikasi dengannya. Seperti halnya huruf-huruf A-B-C-D, kode huruf itu bukan merupakan inisial nama-nama orang yang dimaksud, sehingga sulit untuk ditebak. “Hanya Nazaruddin yang tahu,” ujar Abdullah Hehamahua.

Rangkaian huruf-huruf tersebut hanya bisa dimengerti secara internal oleh mereka yang berkomunikasi, dan tidak oleh selain mereka. Bukan hanya itu saja, Nazaruddin juga biasa menyamarkan orang dengan istilah tertentu. Contohnya adalah dalam transkrip percakapan melalui pesan singkat di bawah ini:

– “Pagi, Bapak. Hari ini bisa ketemu orang kebugaran, ya, Bapak? Jamnya sehabis Magrib di Senayan City.”

– “Pagi, Pak. Habis Magrib, Bapak instruktur kebugaran minta ketemu selepas Magrib di Senayan City.”

– “Saya lagi menuju Gambir habis dari olahraga, Pak.”

Percakapan di atas adalah transkrip pesan singkat (SMS) antara Direktur Pemasaran PT Anak Negeri, Mindo Rosalina Manulang, dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M.Nazaruddin, pada tanggal 22 Juli 2010.

Karena dibuat pusing oleh istilah-istilah tersebut, akhirnya para penyidik KPK meminta Rosa untuk menjelaskan makna dari sandi-sandi itu. Rosa pun akhirnya mengakui bahwa yang dimaksud dengan istilah “pusat kebugaran” adalah = Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sama juga dengan istilah “olahraga” ternyata yang dimaksudkan juga Kemenpora. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah “instruktur kebugaran” adalah Sekretaris Kemenpora, Wafid Muharam.

Para tersangka dan terperiksa kasus korupsi Wisma Atlet juga menggunakan istilah nama buah-buahan. Mindo Rosalina Manulang, misalnya, menyebut “uang” dengan istilah “semangka”. Hal itu terkuak dari SMS antara Rosa dengan Nazaruddin berikut ini:

“Pagi, Pak. Bu Angie (Angelina Sondakh, red.) sepertinya marah karena sisa yang 3 kilo nya tidak dipenuhi. Beliau bilang, yang saya minta kan yang lama. Beliau sudah janji sama teman-temannya untuk diselesaikan yang lama,” tulis Rosa dalam SMSnya pada tangal 12 Mei 2010. Ternyata yang dimaksud dengan “3 kilo” adalah permintaan kekurangan commitment fee sebesar Rp 3 miliar.

Selain “semangka”, nama buah lain yang sudah sering dipakai adalah istilah “apel washington” dan “apel malang”, seperti yang terungkap dari transkrip di bawah ini:

– Pagi ini, Bu…. Tapi “apel washington” ya, Bu.

+ Ok…. Berapa “kilo”?

– Satu “kilo” dulu karena stock-ku lagi habis.

+ Oke deh. Tapi kekurangannya “apel malang” saja ya.

Ternyata yang dimaksud dengan istilah “Apel Washington” dalam hal ini adalah “uang dalam bentuk Dollar” sedangkan “apel malang” berarti “uang dalam bentuk Rupiah”.

Tak hanya itu saja, ada juga sandi-sandi lain yang beredar, seperti misalnya, “Bos Besar” yang diduga mengarah ke Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Terungkap juga bahwa Nazaruddin menyebut Wakil Ketua Badan Anggaran DPR, Mirwan Amir, dengan istilah “Ketua Besar”

Semua istilah dan sandi di atas terungkap saat dilakukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap Mindo Rosalina Manulang.

Karena sudah pusing dan kewalahan dengan banyaknya istilah dan sandi, akhirnya Tim Penyidik KPK, Jaksa Penuntut Umum, Tim Pengacara, dan juga Majelis Hakim yang mengadili kasus Wisma Atlet, kesemuanya ternyata sama-sama memegang semacam “catatan khusus” sebagai kamus untuk memahami berbagai macam istilah dan sandi yang biasa digunakan oleh mereka yang terlibat dalam perkara korupsi Wisma Atlet tersebut.

Berikut ini adalah beberapa dari istilah/sandi beserta maknanya, yang terdapat dalam “kamus korupsi” itu:

Bos Besar = (diduga) mengarah ke Anas Urbaningrum

Ketua Besar = (diduga) mengarah ke Wakil Ketua Badan Anggaran DPR, Mirwan Amir

Pemain besar banggar = Empat fraksi

Apel washington = Uang dalam bentuk Dollar

Apel malang = Uang dalam bentuk Rupiah

Semangka = Uang

Kilo = Miliar

Pusat Kebugaran = Kemenpora

Olahraga = Kemenpora

Instruktur Kebugaran = Sekretaris Kemenpora.
[KbrNet/adl] 

http://kabarnet.wordpress.com/2012/01/12/kamus-korupsi/#more-36165

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s